Translater


PRODUK DAN LAYANAN

Kami CV.Astrindo Jaya Rubber adalah perusahaan yang bergerak di Agrobisnis dan teknologi hasil perkebunan karet. Kami memproduksi berbagai macam produk barang jadi dari karet khususnya untuk support kebutuhan industri.
Pada umumnya pembuatan karet cetak yang kami produksi masih dengan cara konvensional (pemanasan dengan kompor). Namun dengan standart dan kualitas yang teruji. Produk yang kami buat biasanya sesuai permintaan dari customer, setelah contoh/sample produk dari customer kami terima maka kami akan membuat penawaran harga.

CUSTOMER

CV.Astrindo jaya rubber banyak di minati oleh para customer dengan alasan selain pertimbangan harga dengan kualitas yang terjamin juga support pengiriman barang/order yang tepat waktu dan pelayanan yang prima.
CV.Astrindo jaya rubber telah melaksanakan kerjasama dengan beberapa customer, diantaranya :
1. PT.Toa galva industries
2. PT.Galindra
3. PT.Star Cosmos
4. PT.Ebara Indonesia
5. PT.Panasonic Gobel Indonesia

Instansi pemerintah
1. Angkasapura2



O-ring & Seal

O-ring & Seal
Untuk Informasi Lebih Lanjut Silahkan Kirim email Ke yayan.arh@gmail.com
ARTIKEL ARTIKEL TENTANG KARET :

Pentingnya shield LPG


Pemerintah Lalai SNI-kan Karet Pengaman Tabung 3 Kg
Suhendra - detikFinance

Jakarta - Kasus sering meledaknya tabung elpiji 3 kg ternyata bukan hanya dipicu oleh kelalaian para penggunanya. Komponen-komponen tabung sering banyak ditemukan tak layak pakai karena masih adanya produk abal-abal seperti selang tabung, meski sudah ada ketentuan SNI-nya.

Dirjen Kementerian Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Subagyo mengungkapkan sebagai pihak yang bertugas melakukan pengawasan terhadap barang, telah ditemukan dari beberapa hasil contoh yang diteliti sebanyak 100% produk selang tabung tidak sesuai dengan SNI. Bahkan kata dia, khusus untuk komponen shield dari valve (karet pengaman tabung) justru belum memiliki SNI, padahal komponen ini sangat rawan.

"Rencananya Kementerian Perindustrian akan menerapkan SNI karet shield," katanya di gedung DPR-RI, Jakarta, Kamis (3/6/2010)

Subagyo mengatakan masalah SNI ini sepenuhnya ada di Kementerian Perindustrian,sedangkan pihaknya hanya bertugas melakukan pengawasan terhadap implementasi SNI. Harapannya SNI karet shield bisa diterapkan dalam waktu dekat agar menjadi acuan dalam memproduksi karet shield sehingga aman digunakan masyarakat.

Ia juga mengungkapkan semenjak ramainya kasus meledaknya tabung elpiji 3 kg, pemerintah mencakup Kementerian Perdagangan, Kementerian ESDM, Kementerian Perindustrian, dan Pertamina telah memutuskan agar melakukan pengawasan bersama terkait peredaran dan penggunaan tabung elpiji 3 kg.

Sementara itu Ketua Umum Asosiasi Pabrikan Valve LPG Indonesia (Avindo) Edwiro Purwadi mengakui komponen shield kareta masuk dalam produk valve. Selama ini ketentuan terhadap valve sudah ada SNI-nya meski tidak merinci secara khusus soal karet shield.

"Kalau untuk valve itu sudah ada SNI-nya, tapi hanya menyebut kan karet," katanya saat dihubungi terpisah.

Edwiro menjelaskan pihak pabrikan valve selalu menggunakan produk shield karet untuk valve yang bermutu dengan ketentuan kekuatan yang bisa dijamin hingga 2 tahun penggunaannya. Namun dalam prakteknya karet shield sering dibuka oleh konsumen dan akhirnya diganti oleh SPBE Pertamina dengan kualitas yang lebih rendah.

"Karet shield yang asli sering kena cungkil masyarakat akhirnya diganti dengan yang baru oleh Pertamina, tapi beli yang murah. Kalau harga shield yang asli Rp 100-140 per biji tapi yang bukan asli Rp 20 yang jelek," katanya

Sumber : Detik Finance

PROSPEK DAN PELUANG PASAR

Karet (termasuk karet alam) merupakan kebutuhan yang vital bagi
kehidupan manusia sehari-hari, hal ini terkait dengan mobilitas manusia dan
barang yang memerlukan komponen yang terbuat dari karet seperti ban
kendaraan, conveyor belt, sabuk transmisi, dock fender, sepatu dan sandal
karet. Kebutuhan karet alam maupun karet sintetik terus meningkat sejalan
dengan meningkatnya standar hidup manusia. Kebutuhan karet sintetik relatif
lebih mudah dipenuhi karena sumber bahan baku relatif tersedia walaupun
harganya mahal, akan tetapi karet alam dikonsumsi sebagai bahan baku industri
tetapi diproduksi sebagai komoditi perkebunan.

Pertumbuhan ekonomi dunia yang pesat pada sepuluh tahun terakhir,
terutama China dan beberapa negara kawasan Asia-Pasifik dan Amerika Latin
seperti India, Korea Selatan dan Brazil, memberi dampak pertumbuhan
permintaan karet alam yang cukup tinggi, walaupun pertumbuhan permintaan
karet di negara-negara industri maju seperti Amerika Serikat, Eropa Barat dan
Jepang relatif stagnan.

Menurut perkiraan International Rubber Study Group (IRSG), diperkirakan
akan terjadi kekurangan pasokan karet alam pada periode dua dekade ke depan.
Hal ini menjadi kekuatiran pihak konsumen, terutama pabrik-pabrik ban seperti
Bridgestone, Goodyear dan Michellin. Sehingga pada tahun 2004, IRSG
membentuk Task Force Rubber Eco Project (REP) untuk melakukan studi
tentang permintaan dan penawaran karet sampai dengan tahun 2035.


Hasil studi REP meyatakan bahwa permintaan karet alam dan sintetik
dunia pada tahun 2035 adalah sebesar 31.3 juta ton untuk industri ban dan non
ban, dan 15 juta ton diantaranya adalah karet alam. Produksi karet alam pada
tahun 2005 diperkirakan 8.5 juta ton. Dari studi ini diproyeksikan pertumbuhan
produksi Indonesia akan mencapai 3% per tahun, sedangkan Thailand hanya 1%
dan Malaysia -2%. Pertumbuhan produksi untuk Indonesia dapat dicapai melalui
peremajaan atau penaman baru karet yang cukup besar, dengan perkiraan
produksi pada tahun 2020 sebesar 3.5 juta ton dan tahun 2035 sebesar 5.1 juta
ton.

Sejak pertengahan tahun 2002 harga karet mendekati harga US$ 1.00/kg,
Akhir tahun 2005 telah mencapai US$ 1.90kg untuk harga SIR 20 di
SICOM Singapura. Untuk harga sekarang ini US$ 2.25 /kg. Diperkirakan harga akan naik seiring dengan naiknya harga minyak mentah dunia dan pada jangka panjang sampai 2020 akan tetap stabil, dikarenakan permintaan yang terus meningkat terutama dari China, India, Brazil dan negara negara yang mempunyai pertumbuhan ekonomi yang tinggi di Asia-Pasifik.

sumber : Chairil Anwar
Pusat Penelitian Karet




TEKNOLOGI BUDIDAYA KARET

Untuk membangun kebun karet diperlukan manajemen dan teknologi
budidaya tanaman karet yang mencakup, kegiatan sebagai berikut:

• Syarat tumbuh tanaman karet
• Klon-klon karet rekomendasi
• Bahan tanam/bibit
• Persiapan tanam dan penanaman
• Pemeliharaan tanaman: pengendalian gulma, pemupukan dan
pengendalian penyakit
• Penyadapan/panen

1. Syarat Tumbuh Tanaman Karet

Pada dasarnya tanaman karet memerlukan persyaratan terhadap kondisi iklim untuk menunjang pertumbuhan dan keadaan tanah sebagai media
tumbuhnya.

a. Iklim

Daerah yang cocok untuk tanaman karet adalah pada zone antara 150 LS
dan 150 LU. Diluar itu pertumbuhan tanaman karet agak terhambat
sehingga memulai produksinya juga terlambat.

Curah hujan
Tanaman karet memerlukan curah hujan optimal antara 2.500 mm
sampai 4.000 mm/tahun,dengan hari hujan berkisar antara 100 sd. 150
HH/tahun. Namun demikian, jika sering hujan pada pagi hari, produksi
akan berkurang.

Tinggi tempat
Pada dasarnya tanaman karet tumbuh optimal pada dataran
rendah dengan ketinggian 200 m dari permukaan laut. Ketinggian > 600
m dari permukaan laut tidak cocok untuk tumbuh tanaman karet.
Suhu optimal diperlukan berkisar antara 250C sampai 350C.

Angin
Kecepatan angin yang terlalu kencang pada umumnya kurang baik
untuk penanaman karet

b. Tanah

Lahan kering untuk pertumbuhan tanaman karet pada umumnya lebih
mempersyaratkan sifat fisik tanah dibandingkan dengan sifat kimianya.
Hal ini disebabkan perlakuan kimia tanah agar sesuai dengan syarat
tumbuh tanaman karet dapat dilaksanakan dengan lebih mudah
dibandingkan dengan perbaikan sifat fisiknya.
Berbagai jenis tanah dapat sesuai dengan syarat tumbuh tanaman karet
baik tanah vulkanis muda dan tua, bahkan pada tanah gambut <>Tanah vulkanis mempunyai sifat fisika yang cukup baik terutama struktur,
tekstur, sulum, kedalaman air tanah, aerasi dan drainasenya, tetapi sifat
kimianya secara umum kurang baik karena kandungan haranya rendah.
Tanah alluvial biasanya cukup subur, tetapi sifat fisikanya terutama
drainase dan aerasenya kurang baik. Reaksi tanah berkisar antara pH 3,
0 - pH 8,0 tetapi tidak sesuai pada pH <> pH 8,0. Sifat-sifat
tanah yang cocok untuk tanaman karet pada umumnya antara lain :

- Sulum tanah sampai 100 cm, tidak terdapat batu-batuan dan
lapisan cadas
- Aerase dan drainase cukup
- Tekstur tanah remah, poreus dan dapat menahan air
- Struktur terdiri dari 35% liat dan 30% pasir
- Tanah bergambut tidak lebih dari 20 cm
- Kandungan hara NPK cukup dan tidak kekurangan unsur hara mikro
- Reaksi tanah dengan pH 4,5 - pH 6,5
- Kemiringan tanah <>- Permukaan air tanah <>
2. Klon-klon Karet Rekomendasi

Harga karet alam yang membaik saat ini harus dijadikan momentum yang
mampu mendorong percepatan pembenahan dan peremajaan karet yang kurang
produktif dengan menggunakan klon-klon unggul dan perbaikan teknologi
budidaya lainnya. Pemerintah telah menetapkan sasaran pengembangan
produksi karet alam Indonesia sebesar 3 - 4 juta ton/tahun pada tahun 2025.
Sasaran produksi tersebut hanya dapat dicapai apabila minimal 85% areal kebun
karet (rakyat) yang saat ini kurang produktif berhasil diremajakan dengan
menggunakan klon karet unggul.
Kegiatan pemuliaan karet di Indonesia telah banyak menghasilkan klonklon karet unggul sebagai penghasil lateks dan penghasil kayu. Pada Lokakarya
Nasional Pemuliaan Tanaman Karet 2005, telah direkomendasikan klon-klon
unggul baru generasi-4 untuk periode tahun 2006 – 2010, yaitu klon: IRR 5, IRR
32, IRR 39, IRR 42, IRR 104, IRR 112, dan IRR 118. Klon IRR 42 dan IRR 112
akan diajukan pelepasannya sedangkan klon IRR lainnya sudah dilepas secara
resmi. Klon-klon tersebut menunjukkan produktivitas dan kinerja yang baik pada
berbagai lokasi, tetapi memiliki variasi karakter agronomi dan sifat-sifat sekunder
lainnya. Oleh karena itu pengguna harus memilih dengan cermat klon-klon yang
sesuai agroekologi wilayah pengembangan dan jenis-jenis produk karet yang
akan dihasilkan.

Klon-klon lama yang sudah dilepas yaitu GT 1, AVROS 2037, PR 255, PR
261, PR 300, PR 303, RRIM 600, RRIM 712, BPM 1, BPM 24, BPM 107, BPM
109, PB 260, RRIC 100 masih memungkinkan untuk dikembangkan, tetapi harus
dilakukan secara hati-hati baik dalam penempatan lokasi maupun sistem
pengelolaannya. Klon GT 1 dan RRIM 600 di berbagai lokasi dilaporkan
mengalami gangguan penyakit daun Colletotrichum dan Corynespora.
Sedangkan klon BPM 1, PR 255, PR 261 memiliki masalah dengan mutu lateks
sehingga pemanfaatan lateksnya terbatas hanya cocok untuk jenis produk karet
tertentu. Klon PB 260 sangat peka terhadap kekeringan alur sadap dan
gangguan angin dan kemarau panjang, karena itu pengelolaanya harus
dilakukan secara tepat.

Sumber : Chairil Anwar
Pusat Penelitian Karet





TEKNOLOGI LATEKS ALAM IRADIASI


Teknologi Lateks Alam Iradiasi adalah suatu teknologi bagaimana cara membuat/memproduksi barang-barang karet dari lateks alam iradiasi. Saat ini ada lima cara membuat barang-barang karet dari lateks alam iradiasi, yaitu dengan cara celup, cara tuang, cara semprot, cara pelapisan dan dengan cara pembusaan. Secara rinci adalah sebagai berikut :
  • Pembuatan barang karet dengan cara celup. Cetakan dimasukkan ke dalam lateks alam iradiasi, kemudian lateks yang menempel pada cetakan dikeringkan, selanjutnya dilepas dari cetakannya. Barang-barang karet yang dihasilkan dengan cara celup ini mempunyai ketebalan di bawah 0,5 mm. Barang karet tersebut adalah sarung tangan, balon, kondom, dll.

  • Pembuatan barang karet dengan cara tuang. Lateks alam iradiasi dituangkan ke dalam cetakan, kemudian setelah lateks yang melekat pada cetakan kering, dilepas. Barang-barang karet yang dihasilkan dengan cara tuang ini mempunyai ketebalan di atas 0,5 mm, misalnya topeng, perlak bayi

  • Pembuatan barang karet dengan cara semprot. Lateks alam iradiasi disemprotkan melalui lubang kecil, kemudian lateks yang keluar dari lubang kecil tersebut digumpalkan, dicuci dan dikeringkan. Cara ini hanya bisa dikerjakan oleh industri menengah atau besar, karena biasanya menggunakan peralatan yang serba otomatis. Barang karet yang dihasilkan berupa benang karet.

  • Proses pelapisan dengan lateks alam iradiasi. Ada dua cara yang dapat dilakukan untuk melapisi suatu benda, yaitu dengan cara mengulaskan lateks alam iradiasi. Dan yang lain dengan cara menyemprotkan lateks ke permukaan benda. Cara pertama dapat dilakukan di industri tekstil, yaitu pelapisan kain.

  • Pembuatan barang karet dengan cara pembusaan. Lateks alam iradiasi diberi bahan pembusa kemudian diaduk sampai lateks tersebut berbentuk busa, lalu dalam keadaan berbusa lateks digumpalkan. Barang karet yang dihasilkan adalah karet busa.

Keuntungan Pengolahan dan Teknologi Lateks Alam lradiasi

Dari hasil penelitian, baik skala laboratorium, maupun skala pabrik dan uji coba pada industri rumah tangga menunjukkan bahwa keuntungan/keunggulan dalam pengolahan dan teknologi lateks alam iradiasi bila dibandingkan dengan lateks alam proses vulkanisasi belerang adalah sebagai berikut :

Hemat bahan kimia (hanya 2 macam bahan kimia yang dipergunakan), hemat energi panas, dan hemat waktu serta dapat disimpan dalam waktu 6 bulan lebih (lateks alam vulkanisasi belerang hanya dapat disimpan sekitar 3 minggu).

Tidak mengandung bahan karsinogen (penyebab penyakit kanker), tidak beracun (toxical), tidak mengandung protein alergen (penyebab alergi pada tubuh manusia), produk karet tidak berbau tajam dan lebih elastis. Apabila produk karet dari lateks alam iradiasi ini dibakar, gas sulfur dioksida hanya 1/20 lebih rendah dari pada karet proses vulkanisasi belerang.

Lebih mudah didegradasi oleh alam, karena energi aktivasinya rendah, sehingga produk karet dari lateks alam iradiasi tidak mencemari dan akrab dengan lingkungan.

sumber : www.infonuklir.com


Salam sukses,

-AchmadYani (yayan)-